Tampilkan postingan dengan label Peristiwa. Tampilkan semua postingan
Tampilkan postingan dengan label Peristiwa. Tampilkan semua postingan

Surat Burung Merpati

Selamat Malam Tuan..
Kamu yang disana entah dimana berada
Aku disini sedang menangisi kesakitanku. Aku disini sedang menikmati seluruh isi hatiku yang hancur. Aku merindukan sosokmu lagi. Maaf, bisakah kau jelaskan keberadaan hatimu Tuan? Bisakah kau jelaskan isi hatimu padaku?
Aku tak tahu harus memulai bercerita darimana. Aku tak tahu apa yang harus ku jelaskan padamu. Ini teramat sakit untuk dirasakan, juga cukup rumit untuk dijelaskan. Bisakah kau rasakan sedikit saja pedihku? Bisakah kau lenyapkan sedikit kesakitanku?
Mencintaimu kini makin menyakitkan untukku.

Dua Puluh Hari Setelah Kepergianmu

Disini, didalam kamar gelap ini
Aku kembali menjalani rutinitasku
Merindukanmu..
Sebuah rasa rindu yang menjadi sahabatku dalam malam-malamku
Rindu itu kerap datang dan tak mau pergi
Menjadi sesuatu yang keras dan menempel di fikiranku
Ya, aku masih selalu merindukanmu setiap malamku
Kemudian..
Aku mulai menangisi beberapa penyesalanku
Menangisi beberapa kesakitanku
Mencoba bertahan dengan sekuat tenagaku
Dan selalu mencoba menyemangati diriku

Sedikit Rasa Tentang "Kita"

Hei kamu..
Rasanya aku punya lebih dari jutaan rasa syukur karena Tuhan pernah mengutus kamu menjadi salah satu bagian di hidupku, melengkapi apa yang masih belum cukup, mengisi apa yang masih kosong, dan membuka apa yang awalnya tertutup. Tentunya hampir semua tak bisa ku ungkapkan, cuma dengan senyum dan tawa lepasku aku ungkapkan semua itu.
Tuhan kirim kamu untuk membukakan mataku akan banyak hal; sengaja atau tidak kamu lakukan. Tapi aku merasakannya, aku merasa hidup serta rona wajahku tak pernah berbohong. Hidupku tambah berwarna, dengan warna-warna lain yang tak pernah kukira akan tergambar.

Empat Belas Hari Setelah Kepergianmu

Selamat malam, Tuan..
Bagaimana kabarmu? Baik-baik saja?
Aku rindu bertukar kabar denganmu. Aku rindu bertukar cerita lagi denganmu hingga larut malam. Dimana dirimu? Sudahkah makanmu malam ini? Sudahkah tunai shalatmu malam ini, Tuan? Aku tak lagi bisa bertanya seperti itu padamu. Sungguh, aku begitu rindu.

Malam ini, tepat empat belas hari yang lalu kepergianmu. Tepat empat belas hari yang lalu kamu mengakhiri segalanya. Aku kehilanganmu.. Aku kehilangan segalanya..

Kamu mau tau tidak? Aku cukup frustasi dengan keputusanmu, aku sempat putus asa dengan hidupku. Aku tak tau harus melakukan apa. Aku merasa Tuhan tak adil dengan hidupku. Aku terlalu putus asa, Tuan. Hatiku hancur dengan sempurna. Aku terus menyalahkan diriku sendiri, aku terus menyalahkan semua keadaan. Andai semua bisa ku putar ulang kembali. Andai aku bisa lebih tegas dengan diriku sendiri.

Untuk Dirimu

Tak terhitung sudah berapa kali ini terjadi

Jatuh dan merasa kecil di dunia ini. Kecewa dan membuatku berhenti untuk percaya orang lain. Dikhianati dan membuatku pesimis terhadap cinta. Seperti burung kecil yang baru belajar terbang, dunia menyuruhku untuk belajar semua hal dalam waktu singkat. Aku dipaksa untuk menentukan segala-galanya seorang diri. 

Hanya Kamu Yang Bisa Aku Harapkan

Entah ini sudah yang ke-berapa kalinya. Aku mencemburuimu, dengan beberapa teman wanita disekelilingmu. Mungkin mereka membuatmu tertawa dengan cerita konyol dan cerita fact yang mereka punya. Mungkin. Seakan aku tak melihat, seakan aku tak merasa, seakan aku tak mengetahui. Aku mungkin terdiam membisu seakan-akan aku disibukkan dengan semua tugasku, ya kamu tahu itu. Tapi tanpa kamu ketahui, aku mengetahuinya, mencari jejak demi jejak untuk menyusun sebuah permainan puzzle.

Konyol. Seakan semua hanya terbang terbawa angin semilir pantai, semua pemberianmu entah akan kuartikan apa. Mungkin aku sama, sama dengan mereka yang juga berada disekelilingmu. Aku mulai mencoba memercayaimu, setelah sekian lama aku ragu untuk memberimu kepercayaan. 

Tugas baruku, perlahan Belajar Mengikhlaskan

Di pertemuan malam, aku melemaskan perasaan, menjerit batin mengusung sepi. Di pautan malam yg terbaring begini, yang ku kutip hanyalah segenggam sunyi. Serangan angin semilir, merisik rasa mengusik jiwa. Menembusi jaring-jaring mendadak membuatkan tubuh ku menggigil seksa. Dalam detik yg menyesak ini. Suara keluhan menyimpul, menanyakan sebuah perasaan dari pengalaman silam yang lama ku pendam. Malam pun kian larut. Dalam kedinginan ini, riuh bandar sudah lama tenggelam. Tenggelam bersama malam, juga tenggelam bersama rahasianya.

Hitam, kelam, tak bercahaya. Malam kelabu, dingin, tak berbintang. Harus ku sebut dengan sebutan apa malam ini?

Seperti Sepotong Senja Menghampiri Mereka, Aku Merindukanmu

Dikala sepotong senja yg menghampiri mereka, tetap saja bisu dan temaram seperti deru ombak yg diselimuti debu. Senja yg tertutup awan, sama seperti kenangan. Hampir sehat tapi tertahan, karena sepotong hati yg masih bertahan, menunggu lepas dari perabaian.

Hitam, semua hitam. Gelap, semua gelap. Aku bukan tak butuh penerangan untuk menerangi hari-hariku, tapi, aku kehilangan. Kehilangan cahayaku. Dimana? Dimana dia? Dia telah memiliki tempat untuk diterangi, pemilik baru untuknya. Mungkin dia bosan, atau mungkin dia lelah menerangi hari-hariku.

Ketika sepasang burung merpati bahagia

'Beautiful night', aku hanya punya satu alasan mengapa aku bisa berbicara seperti itu. Bulan yang cantik, dan ditemani bintang-bintang. Bukan karna orang special. Bukan.

Aku termenung disebuah taman sendirian, dibawah renungan bulan purnama aku kembali membuka satu demi satu album foto itu, mungkin yg terakhir kalinya.

Long Distance Relationship

Kamu adalah angin yang berhembus setiap harinya, tidak pernah tersentuh.
Kamu adalah butiran salju yang mengguyur Eropa pada penghujung Januari, Dingin.
Sebenarnya aku masih penasaran, kamu sebenarnya tahu atau tidak tentang bagaimana perasaanku? Bukan hitam bukan juga putih, mungkin abu-abu.

Sama seperti malam-malam sebelumnya, aku berdua dengan handphone, tersenyum melihat layarnya, dan tertawa mendengar suara darinya. Iya, itu kamu. Menghiburku dengan; sedikit tawa kecilmu diseberang sana, apalagi ledekan-ledekanmu yg terkadang memang membuatku kesal. Walau hanya melalui pesan singkat dan telfon, kamu mampu membuat imajinasiku berjalan; membayangkan disini aku sedang bersamamu, bertukar cerita, dan tertawa bersama. Kamu tahu tidak, suaramu itu selalu aku rindukan, yg mampu membuatku tenang.

Menggores Cerita Masa Lalu

Malam yang indah, ya malam minggu yg sungguh indah. bulan dan bintang bernyanyi dan menari bersama, bagai sepasang kekasih yg terhampar di berbagai sudut kotaku. mereka tertawa dan tersenyum bersama, entahlah apa yg sedang mereka bicarakan. 

Kembali menggores cerita masa lalu. Mengingat secara rinci, melihat secara detail, dan menuliskan dengan hati-hati. Kamu telah kembali, setelah berhasil membuat luka dihati ini semakin tak berbentuk. Menggoreskan dengan tajam, dan mencoba menambah percikan luka yang kau anggap air gula. Manis sekali. 

Untuk apa kau mengajariku berlari?

Entah telah berapa kali aku mencoba melangkah mundur, berbalik arah meninggalkan sosokmu tanpa melihat lagi. Entah telah berapa kali aku gagal mengambil langkah itu, begitu sulit rasanya untuk berbalik arah, menjauh pergi meninggalkan sejuta kenangan bersamamu.

Kamu selalu bisa mengajariku kembali kemasa yang seharusnya aku lupakan, kamu selalu bisa membuatku melangkah lagi untuk mengejarmu kembali. Tapi sehabis itu, Kamu diamkan aku sesuka hatimu, kamu pergi menjauh lagi dan lebih jauh dan sangat jauh. Kamu tak pernah tahu saat aku kelelahan, kamu tak pernah tahu saat aku terjatuh, kamu juga tak pernah tahu saat aku kehilangan arah mengejarmu.

Aku lelah, Sayang :')

Tak terhitung lagi langkah kaki yang telah kulalui sejauh ini, tak terhitung lagi berapa lama perasaan itu telah ada. Aku mulai melangkah lagi, mengejar entah apa yang akan aku dapatkan diujung jalanku nanti. Melihat ke sekeliling aku tersadar, aku sendiri, berjalan menyusuri ruang kosong seperti tak berujung. Aku kembali melangkah, kemudian terselip ingatan dalam benakku, mencoba memasuki fikiran tanpa permisi. Seseorang bersamaku, iya itu kamu, menggenggam tanganku dengan erat seakan tak ingin kau lepaskan, lalu kau bisikkan kata-kata yang tak pernah aku duga sebelumnya, kau lantunkan alunan musik melodi indah dan kau seketika mampu menghentikan waktu untukku.

Mungkin aku terlalu HINA!

Dalam hidup, ngga selamanya aku bisa tertawa, ngga selamanya aku bisa tersenyum. Ada kalanya aku menangis. Mungkin aku sudah hina telah berbohong pada dunia, aku tersenyum dan aku tertawa, tapi pada dasarnya hanya sebagian kecil dari mereka yang tahu bahwa aku juga menangis.

Dilangit, aku hanya bagaikan bintang kecil diujung sana yang tak berarti apa-apa. Ketika hujan akan datang aku meredup dan tertutup oleh awan, tak sama seperti mereka yang masih tetap bertahan dengan cahayanya. 

Dilautan, aku hanya bagaikan bintang laut, menyerahkan diri dibawa ombak. Apa mereka tahu sesakit apa aku? Tertabrak karang dilautan, tertabrak bebatuan dipinggir pantai, tertimbun pasir, atau bahkan terdampar di tepian pantai. 

Siapa aku dihatimu? Jawab!

Hey, bagaimana kabarmu? Apa kamu baik-baik saja tanpaku? Aku yakin kamu baik-baik saja. Karna teman-temanmu bisa buat kamu bahagia, seperti apa katamu.

Adakah kau rindukan aku? Adakah difikiranmu terselip ingatan tentangku? Adakah pertanyaan yang kau lontarkan tentang aku? Ketahuilah, disaat kamu pergi, aku merasa rindu, selalu cemas akan kabarmu. 

Kabarmu tak lagi ku dengar, selalu terselip tanya difikiranku "Apakah kamu telah menemukan yang lain?" itu salah satu kecemasan dari beribu-ribu yang selalu kucemaskan padamu.

Aku berdiri didepan cermin. Aku sadar, aku tak lebih dari mereka. Mereka lebih dariku, mereka modis, mereka kece, bahkan mereka telah hampir sempurna. 

up