Di pertemuan malam, aku melemaskan perasaan, menjerit batin mengusung sepi. Di pautan malam yg terbaring begini, yang ku kutip hanyalah segenggam sunyi. Serangan angin semilir, merisik rasa mengusik jiwa. Menembusi jaring-jaring mendadak membuatkan tubuh ku menggigil seksa. Dalam detik yg menyesak ini. Suara keluhan menyimpul, menanyakan sebuah perasaan dari pengalaman silam yang lama ku pendam. Malam pun kian larut. Dalam kedinginan ini, riuh bandar sudah lama tenggelam. Tenggelam bersama malam, juga tenggelam bersama rahasianya.
Hitam, kelam, tak bercahaya. Malam kelabu, dingin, tak berbintang. Harus ku sebut dengan sebutan apa malam ini?
Kutemani langit hitam tak berbintang ini dengan perasaan rindu. Rindu yang tak bisa ku perjelas keadaannya. Mencari-cari sesosok wajah dalam bayang-bayang yang mencoba mengusikku dengan sengaja. Menjadikan cinta sebagai peganganku untuk melangkah. Perlahan tapi pasti, hingga diujung kegelapan itu langkahku terhenti, mengingat sesosok wajah yang pernah aku jumpai. Melontarkan senyum yang dulu ku kenal jelas, menghantarkan aku ke langit ke tujuh, terbang bersama menembus awan putih, bermain bersama burung merpati. Aku mulai mengingatnya, senyum itu, kemudian wajah itu, ternyata rindu ini masih milikmu. Menghantarkanku ke imajinasiku, bertemu denganmu dalam bayangan mimpi.
Cinta ini masih dalam genggamanmu, mulai rapuh terkikis angin akibat kau biarkan letakkan ia diluar tanpa lapisan. Aku masih memercayaimu, tapi tugasku kini telah selesai. Aku terpaksa berhenti mencintaimu karena tugasku telah tergantikan olehnya, mengisi ruang baru. Dan aku, akan memulai melaksanakan tugas baruku. Mencintaimu dalam diam, merindukanmu dalam sepi, seperti menanti sepotong senja, perlahan-lahan belajar untuk mengikhlaskan.
Hitam, kelam, tak bercahaya. Malam kelabu, dingin, tak berbintang. Harus ku sebut dengan sebutan apa malam ini?
Kutemani langit hitam tak berbintang ini dengan perasaan rindu. Rindu yang tak bisa ku perjelas keadaannya. Mencari-cari sesosok wajah dalam bayang-bayang yang mencoba mengusikku dengan sengaja. Menjadikan cinta sebagai peganganku untuk melangkah. Perlahan tapi pasti, hingga diujung kegelapan itu langkahku terhenti, mengingat sesosok wajah yang pernah aku jumpai. Melontarkan senyum yang dulu ku kenal jelas, menghantarkan aku ke langit ke tujuh, terbang bersama menembus awan putih, bermain bersama burung merpati. Aku mulai mengingatnya, senyum itu, kemudian wajah itu, ternyata rindu ini masih milikmu. Menghantarkanku ke imajinasiku, bertemu denganmu dalam bayangan mimpi.
Cinta ini masih dalam genggamanmu, mulai rapuh terkikis angin akibat kau biarkan letakkan ia diluar tanpa lapisan. Aku masih memercayaimu, tapi tugasku kini telah selesai. Aku terpaksa berhenti mencintaimu karena tugasku telah tergantikan olehnya, mengisi ruang baru. Dan aku, akan memulai melaksanakan tugas baruku. Mencintaimu dalam diam, merindukanmu dalam sepi, seperti menanti sepotong senja, perlahan-lahan belajar untuk mengikhlaskan.


0 komentar:
Posting Komentar