Long Distance Relationship

Kamu adalah angin yang berhembus setiap harinya, tidak pernah tersentuh.
Kamu adalah butiran salju yang mengguyur Eropa pada penghujung Januari, Dingin.
Sebenarnya aku masih penasaran, kamu sebenarnya tahu atau tidak tentang bagaimana perasaanku? Bukan hitam bukan juga putih, mungkin abu-abu.

Sama seperti malam-malam sebelumnya, aku berdua dengan handphone, tersenyum melihat layarnya, dan tertawa mendengar suara darinya. Iya, itu kamu. Menghiburku dengan; sedikit tawa kecilmu diseberang sana, apalagi ledekan-ledekanmu yg terkadang memang membuatku kesal. Walau hanya melalui pesan singkat dan telfon, kamu mampu membuat imajinasiku berjalan; membayangkan disini aku sedang bersamamu, bertukar cerita, dan tertawa bersama. Kamu tahu tidak, suaramu itu selalu aku rindukan, yg mampu membuatku tenang.



Tapi, sudah 4 malam ini terasa berbeda, kamu semakin jauh, bukan, bukan menjauh, tapi terpaksa menjauh hingga membentuk jarak. Iya jarak, siapa yang tak kenal jarak? Yg rela membuat rindunya pertemuan karenanya. Perkara cinta yang dihadapkan pada serbuan rasa rindu, krisis kepercayaan, dan cobaan kesetiaan. Aku bahkan tak sanggup berlari sendiri menghentikan jarak ini, berlari berpuluh-puluh kilometer dan menerjang lautan. Hingga aku hanya bisa putuskan, rela untuk menunggu, menunggumu pulang dan menemaniku lagi disini. Bukankah dengan merelakan menunggu adalah pengorbanan yg tulus bagimu; sebuah kesetiaan yg langka, yg semua org belum tentu bisa melakukannya.

Kembali ke beberapa rasa; ragu, jenuh, egois, takut, dan cemburu, semua adalah bumbu. Yang terkadang ada pada sebuah hubungan. Memberikan rasa; manis, pahit, asam, asin, bahkan bisa sekaligus semua tercampur aduk. Lalu, banyak org menilai semua adalah kekurangan. Tapi, mungkin bisa diibaratkan lebih tepatnya seperti sebuah suplemen, yang mampu membuat bertahan, menahan pondasinya sebuah cinta.

Mengertilah, mungkin aku hanya belum terbiasa dengan jarak ini. Maafkan jika aku yg terlalu banyak mengeluh karna keputusanmu membuat sebuah jarak. Tetaplah tersenyum sayang, bukan hanya kamu yg merindukan sebuah pertemuan, aku tetap disini, tak pernah lelah melantunkan kata semangat untukmu, tak pernah lelah meminta pada Tuhan untuk selalu menjagamu, raihlah cita-citamu sayang, buatlah mama dan papa bangga padamu.

Barangkali kita memang butuh spasi, seperti jarak yg memisahkan kata-kata. Dan pada akhirnya jaraklah yg akan menyerah kalah dilipat sang waktu.

0 komentar:


up