Dalam hidup, ngga selamanya aku bisa tertawa, ngga selamanya aku bisa tersenyum. Ada kalanya aku menangis. Mungkin aku sudah hina telah berbohong pada dunia, aku tersenyum dan aku tertawa, tapi pada dasarnya hanya sebagian kecil dari mereka yang tahu bahwa aku juga menangis.
Dilangit, aku hanya bagaikan bintang kecil diujung sana yang tak berarti apa-apa. Ketika hujan akan datang aku meredup dan tertutup oleh awan, tak sama seperti mereka yang masih tetap bertahan dengan cahayanya.
Dilautan, aku hanya bagaikan bintang laut, menyerahkan diri dibawa ombak. Apa mereka tahu sesakit apa aku? Tertabrak karang dilautan, tertabrak bebatuan dipinggir pantai, tertimbun pasir, atau bahkan terdampar di tepian pantai.
Dibumi, aku hanyalah manusia biasa. Berjalan sendiri di tengah gelapnya malam yang dingin, diguyuri satu persatu rintikan hujan. Aku mulai berteduh, mencoba menghangatkan tubuhku. Kau mendatangiku, mencoba memberikanku handuk hangat dengan segelas teh panas, dan kau dudukkan aku di kursi terasmu. Kau mulai bertanya, mencoba memulai pertemanan. Pertemanan itu mulai terasa mendekat dengan persahabatan, hingga aku mulai berani, berani bercerita denganmu tentang dirinya. Hingga suatu hari aku mulai mengetahuinya, ternyata kamu telah menyayangi dirinya. Aku mulai mengalah, berjalan mundur meninggalkan kamu dengan dia. Tapi apa kamu pernah tahu, aku sudah berulang kali mengalah untukmu? Aku rasa tidak, kamu hanya bisa mengandalkan keegoisanmu, ngga pernah mau kalah, dan ngga pernah mau mendengarkan! Aku mulai menghilang dan menghilang, dan kemudian kau datang memancing amarahku. Apa kamu pernah tahu, apa kamu pernah mendengar, aku selalu mendoakanmu jika memang kamu berhak bersama dia? TIDAK! Kamu hanya bisa membalas dengan melecehkan aku, seakan-akan aku adalah orang paling HINA, seakan-akan perbuatanku terlalu KEJI. Untuk apa? Kamu hanya bisa menghasut semua orang untuk pembelaan, kamu hanya bisa menjadikan aku sebagai kambing hitam! Sekeji itukah aku? Sehina itukah aku? Seberapa banyak setan yang telah membisikkanmu? Sehingga tak bisa kau dengarkan perkataan malaikat yang bisa mendamaikan suasana. Mungkin memang kamu terlalu egois dan aku terlalu hina. Entah sampai kapan kamu bisa membuatku menangis:')
Salam Par Praa;)
Dilangit, aku hanya bagaikan bintang kecil diujung sana yang tak berarti apa-apa. Ketika hujan akan datang aku meredup dan tertutup oleh awan, tak sama seperti mereka yang masih tetap bertahan dengan cahayanya.
Dilautan, aku hanya bagaikan bintang laut, menyerahkan diri dibawa ombak. Apa mereka tahu sesakit apa aku? Tertabrak karang dilautan, tertabrak bebatuan dipinggir pantai, tertimbun pasir, atau bahkan terdampar di tepian pantai.
Dibumi, aku hanyalah manusia biasa. Berjalan sendiri di tengah gelapnya malam yang dingin, diguyuri satu persatu rintikan hujan. Aku mulai berteduh, mencoba menghangatkan tubuhku. Kau mendatangiku, mencoba memberikanku handuk hangat dengan segelas teh panas, dan kau dudukkan aku di kursi terasmu. Kau mulai bertanya, mencoba memulai pertemanan. Pertemanan itu mulai terasa mendekat dengan persahabatan, hingga aku mulai berani, berani bercerita denganmu tentang dirinya. Hingga suatu hari aku mulai mengetahuinya, ternyata kamu telah menyayangi dirinya. Aku mulai mengalah, berjalan mundur meninggalkan kamu dengan dia. Tapi apa kamu pernah tahu, aku sudah berulang kali mengalah untukmu? Aku rasa tidak, kamu hanya bisa mengandalkan keegoisanmu, ngga pernah mau kalah, dan ngga pernah mau mendengarkan! Aku mulai menghilang dan menghilang, dan kemudian kau datang memancing amarahku. Apa kamu pernah tahu, apa kamu pernah mendengar, aku selalu mendoakanmu jika memang kamu berhak bersama dia? TIDAK! Kamu hanya bisa membalas dengan melecehkan aku, seakan-akan aku adalah orang paling HINA, seakan-akan perbuatanku terlalu KEJI. Untuk apa? Kamu hanya bisa menghasut semua orang untuk pembelaan, kamu hanya bisa menjadikan aku sebagai kambing hitam! Sekeji itukah aku? Sehina itukah aku? Seberapa banyak setan yang telah membisikkanmu? Sehingga tak bisa kau dengarkan perkataan malaikat yang bisa mendamaikan suasana. Mungkin memang kamu terlalu egois dan aku terlalu hina. Entah sampai kapan kamu bisa membuatku menangis:')
Salam Par Praa;)


0 komentar:
Posting Komentar