Hey, ni aku mau share cerpenku tapi ini bukan yg cerbung loh ya lain lagi ini. Sipsip, langsung read aja ya
CINTA, berbicara tentang apa itu cinta. Kata yang berawalan huruf Alphabeth 'C' dan diakhiri huruf Alphabeth 'A' mengisikan
lima huruf yang memiliki banyak makna yang tersimpan didalamnya. Tak sedikit
orang yang mengenal apa itu cinta. Aku terlahir dari cinta Ibu dan Ayahku,
hingga aku lahir dan sampai sekarang ini aku dilajarkan untuk mencintai. Kini
aku mulai beranjak dewasa. Aku mulai mengenal apa itu cinta, ketika aku mulai
bertemu dengannya, saat dimana ia bertanya tentangku.
“Ren, ke kantin yuk temanin aku
makan ya”
Wina menghampiriku dan
mengajakku pergi, tapi aku masih sibuk dengan buku-buku dan alat tulis yang
berhabur dimejaku yang sudah berteriak ingin dirapikan.
“Oke, tunggu sebentar! Aku
merapikan buku-buku ini dulu”
“Ah... Renaa lama nih, buruan
yuk aku udah lapar tau. Nanti aja deh beresinnya”
Wina tak sabar lagi ingin segera
menyerbu makanan kantin, tanpa memperdulikan bukuku terjatuh di depan pintu
kelas akibat dia menarikku tanganku terlalu kuat.
“Duh! Win, sakit tau. Sabaran
sedikit kenapa”
“Wah, ngga bisa lagi mba. Udah
lapar banget ini”
“Ngga sarapan lagi nih”
“Hehe, Rena tau aja nih. Tadi
pagi buru-buru banget”
“Iya aku tau, tadi pagi kamu
hampir terlambat kan? Untung Ibu kiler satu itu belum masuk kelas. Kalau udah,
tambah hitam kamu dijemur dilapangan”
Ibu kantin menghampiri meja
kami, membawa makanan pesanan Wina. Aku mulai berdiri, melangkahkan kakiku
menuju depan pintu kantin.
“Kamu mau kemana? Ngga makan?”
“Mau ke depan pintu aja kok,
kucingnya lucu nih. Aku juga lagi ngga laper, Win”
Aku meninggalkan tempat dudukku
tadi, menjauh meninggalkan Wina dan mendekat dengan seekor kucing yang sejak
tadi menarik perhatianku untuk mengelus dan bermain dengannya. Aku kemudian
tersenyum melihat kucing itu mulai tertidur, sampai-sampai aku sendiri ngga
nyadar dari kejauhan sana ada yang memperhatikan gerak-gerikku sejak tadi.
Ana teman sekelasku menghampiri
dengan mukanya yang cengengesan, Awalnya dia diam lalu dia mulai bercerita.
“Kenapa, Na?”
Ana diam menatapku dengan muka serius
lalu berubah menjadi muka cengengesan lagi.
“Hmm.. Ren, tadi si Frans nanya
nama kamu”
Aku terkejut dengan perkataan
Ana barusan, untuk apa bule itu menanyakan namaku. Ya, dia bule dari Jerman,
dia pindah ke Indonesia dengan tujuan entah apa aku tidak ingin mengetahuinya. Tidak penting lebih tepatnya.
Dia sudah lumayan lama sekolah
disekolahku dan menjadi teman sekelasku. Tapi aku dan dia ngga pernah tegur
sapa, apalagi sampai mengobrol. Bukan hanya karena faktor bahasa yang menjadi
penghalangnya, tapi aku juga malas, apa yang aku harus bicarakan dengan dia.
“Untuk apa dia menanyakan
namaku?”
“Entahlah, sepertinya ia suka
padamu”
Ana meninggalkanku. Akumasih
terheran-heran dengan apa yang ia ceritakan tadi. Apakah ia? Ah I don’t care.
Aku kembali berjalan menuju meja
makan Wina. Aku kaget ternyata makanannya masih banyak.
“Eh, Ren. Kenapa kamu tadi sama
Ana?”
“Ngga papa, Win. Ngga penting.
Eh, ngomong-ngomong kok makananmu masih banyak sih?”
“Nambah, Ren. Hehehe, mauu?”
“Ngerinya. Ngga deh makasih,
lanjutkan saja”
Aku masih memikirkan perkataan
Ana tadi. Tiba-tiba Vina dan Clara datang menghampiri kami berdua.
“Eh, Ren. Ada yang nanyain
namamu tuh”
Wina kaget dengan perkataan
Clara. Aku ya biasa aja, udah ku tebak pasti Frans lagi. Tapi aku hanya
pura-pura ngga tahu aja.
“Siapa memangnya, Ra?”
“Itu, Ren. Frans.”
Wina spontan terkejut dengan
perkataan Clara saat menyebutkan nama Frans. Dan ternyata tebakanku benar, ngga
meleset kemana-mana.
“Untuk apa si bule itu tanya
namanya Rena?”
Wina melontarkan pertanyaan, aku
hanya tersenyum.
“Sepertinya ia suka padamu, Ren”
Vina dan Clara menjawab
serentak.
Aku kembali terdiam dan
melontarkan raut muka penuh tanya. Dan lagi-lagi kata-kata itu yang ku dengar.
Tapi, masa iya?
Seminggu telah berlalu,
kehidupan sekolahku terlihat berbeda dari sebelumnya. Sekarang ada yang sering
menyapaku dan mencoba mengajakku mengobrol, tapi aku hanya membalasnya dengan
senyuman sederhana. Tak jarang aku melihat ekspresi kecewa diraut wajahnya, aku
hanya bisa menahan geli akibat tawqa yang dibuatnya.
Sebenarnya aku juga ingin
menyapa dan mengobrol dengannya, tapi aku malu untuk berhadapan dengannya dan
aku juga ngga selancar dia berbahasa inggris. Terkadang aku membutuhkan kamus,
tapi masa iya kalau ngomong sama dia harus sedia kamus? Mending ngga usah sama
sekali deh.
Sekarang aku mulai berhadapan
dengannya, jantung ini serasa berdebar dengan debaran-debaran aneh, mulutku
terasa kelu untuk mengucapkan beberapa patah kata, kakiku juga terasa kaku
untuk melangkah menjauhinya. Dan kini terasa keringan bercucuran keluar dari
tubuhku karena gugup. Mulai dia bertanya namaku hari itu, aku mulai jatuh cinta
padanya. Dan mulai dari situ juga aku mulai mengenal apa itu cinta.
“Rena...?”
Dan ternyataaa.... Dia memulai
pembicaraan memecah keanehan diantara kami karena sejak tadi aku hanya berdiri
di depannya dan hanya terdiam menatapnya. Jantungku kembali berdebar lebih
cepat. Mulutku kembali kelu tapi kucoba ucapkan beberapa patah kata.
“What?”
“What are you doing here, Rena?”
“Hmmm.... I just want to say hi”
“Oh.. Hi, Rena”
Kakiku bergetaran dan sulit
untuk melangkah, perkataannya tadi hanya ku balskan dengan senyum. Dan aku
mulai pergimenjauhinya. Jantungku masih berdebar, masih terasa aneh.
Tiga minggu telah berlalu dari
kejadian hari itu, saat ina bertanya tentangku. Kami mulai terasa mendekat,
semakin dekat walau terkadang bahasalah yang menghalanginya. Tapi yang hanya
ingin aku tunjukkan sekarang adalah aku bahagia bersamanya disini.
Seperti biasa, aku mengobrol
dengannya, bercanda dan lain-lain, dan tak lupa Wina, Clara dan Vina hadir pula
menemaniku. Kami terlihat akrab bercanda tertawa dengan gembira, tapi terkadang
kami terdiam saat Frans berkata apa yang tak mampu diartikan secara cepat untuk
orang seperti kami. Hahaha. Hening sesaat dan kemudian tertawa entah karena
apa.
“Rena, can I take you out of
class? I want to take you to a place”
“Yes, sure”
Frans mengajakku pergi ke luar
kelas entah kemana ia akan membawaku, jantungku kembali berdetak dengan
kencang. Dan langkah kami terhenti pada suatu tempat yang belum pernah ku
jumpai selama tinggal dikota ini.
“How do you know this place”
“Dulunya aku pernah tinggal
disini, aku sering ke tempat ini”
Aku terkejut, tak seperti
biasanya, wow! Dia bisa berbahasa Indonesia, mengapa aku harus susah-susah
belajar bahasa inggris untuknya.
“kamu”
“Iya, aku kursus bahasa
indonesia kilat selama tiga minggu terakhir ini, hanya untuk bisa mengobrol
denganmu. Karena aku tau kita terhalang karena bahasa”
Aku mendengar suaranya begitu
lembut, walau terdengar pasif tapi aku hargai kerja kerasnya untuk bisa
mengobrol denganku. Denganku? Sepertinya tidak! Oh, tidak.
“Ini bukumu”
Frans mengambil buku dari dalam
tas yang memang dipakainya dari kelas tadi dan kemudian menyerahkan padaku. Ya,
itu benar bukuku. Tapi dia menemukan dimana?
“Mengapa bisa sama kamu?”
“”Waktu itu, buku ini aku
temukan di depan pintu kelas”
“Oh.... Itu waktu Wina menarikku
ke kantin aku tak sempat mengambilnya”
“Iya, mangkanya aku menanyakan
namamu. Tapi teman-temanmu mengira bahwa aku menyukaimu”
“Aku pikir juga begitu”
Aku kecewa dengan ceritanya,
ternyata waktu itu dia hanya menanyakan namaku karena buku itu. Ohh.. Sial,
bahkan sekarang aku mencintainya.
“Tapi, sejak saat itu kita mulai
dekat, aku mulai mengenalmu, senyummu begitu manis, tawamu terlihat ceria, kamu
membuatku tertarik dan jatuh cinta”
“Sekarang aku menyayangimu”
Aku tak sadar dengan apa yang
barusan aku katakan, lidahku begitu saja mengucapkannya. Dan saat-saat itu pun benar
terjadi.
“Aku pun menyayangimu juga”
Salam Par Praa;)


0 komentar:
Posting Komentar