CERPEN - CINTA TAK TERUCAP


Sore ini cerah, matahari siang masih menampakkan sinarnya bersama hembusan angin. Segelas Oreo Milkshake dan sepiring Pancake menemani Naira dan Lisa. Tatapan Naira terpaku pada handphone nya, seolah-olah Naira masuk dalam dunia pada handphone nya. Lisa asik dengan Pancake nya, mungkin dia suka atau karena memang dia lapar, ya hanya dia yang tau. Naira masih asyk dengan handphone nya, Lisa kembali meneguk minumannya dan mulai memecah keheningan diantara mereka.
"Nai, pergi yuk"
Tapi Naira tetap terdiam menatap layar pada handphone nya. Lisa sedikit kesal, dan kembali berkata dengan nada sedikit tinggi.
"Nairaa! Pergi yuk"
"Eeh. Kemana?"
Naira terlihat sedikit kaget dengan suara Lisa barusan. Untungnya dia sempat mencerna apa perkataan Lisa tadi.
"Udah, ikut aja temanin gue cari kado" sambil mengibaskan tangannya di depan wajahnya.
"Emang siapa yang ultah, Lis? Tanggal berapa sih ini?"
"Besok tanggal 5, Naira. Masa lo lupa siapa yang ultah?"
"Iya bener gue lupa, emang siapa sih?" Naira kembali menatap layar pada handphone nya.
"Eh lo beneran ngga inget sama sekali, Nai. Besok ultahnya kak Rama tau"
"Sebenernya gue tau" lagi-lagi muka songong yang dipampang Naira
"Lah, trus kenapa tadi lo nanya?"
"Pengen mastiin aja, elo masih suka sama kak Rama, Yu?"
"Kalo engga ngapain gue perduliin ultah dia besok, Naira. Udah yuk jalan sekarang ntar kesorean" Lisa menarik tangan Naira menuju mobil.
"Ihh lo, Lis. Masih betah aja"
"Nah, lo sendiri kenapa masih betah juga sama kak Deny?" Lisa ngga mau kalah
"Namanya gue sayang"
"Nah gitu juga gue, Nai. Udah masuk mobil cepat cuss kita pergi. Ngomong-ngomong soal tadi kenapa lo nanya kaya gitu?" muka Lisa yang tadinya santai sekarang berubah menjadi serius.
"Eh nggapapa, Lis"
"Bener? Soalnya pertanyaan lo tadi keliatan serius banget"
"Gue emang orangnya seriusan kali, Yu. Udah kenal gue lama juga kenapa lo ngga nyadar-nyadar sih" dan yang kesekian kalinya Naira memampangkan muka songongnya, ya itulah Naira suka banget mampangin muka songong ke lawan bicaranya.
"Eh bukan gitu kali, Nai"
"Iya-iya gue tau kok lis apa maksud kata-kata lo, udah gue cerna baik-baik. Gini, gue kira lo udah move on dari kak Rama abis udah lama banget lo suka sama dia" Naira mulai mengalihkan perhatiannya ke Lisa membiarkan hpnya menjauh dari pandangannya.
"Gue bukan cuman suka ternyata, Nai. Bahkan gue udah cinta sama dia, tapi dianya aja yang masih ngga peka-peka sama kode-kode yang gue kasih"
"Dalam kamus cowo itu yang namanya peka ngga ada, Lis. Jangan banyak berharap deh lo kecuali lo katakan apa yang sebenarnya lo mau" Naira pun kembali menatap layar handphone nya.
***
Mobil jazz biru yang ditumpangi tiga sahabat itupun melaju ke dalam parkiran mall. Melesat jauh meninggalkan pintu masuk.

"Shopiiiiing, yey" sorak Lea bergembira, yang sejak tadi bingung entah kemana dua sahabatnya itu akan membawanya pergi.

Yaa, Naira dan Lisa punya satu sahabat lagi namanya Lea. Percaya ngga percaya dia itu ngga pernah pacaran apalagi jatuh cinta, padahal dia itu cantik, baik, modis.

"Shoping mulu pikiran lo, Le. Bantuin gue nyari kado dulu!"

"Eeeh? Kado buat siapa nih?" muka Lea berubah bingung dan segera cepat-cepat melihat kalender di hpnya.

"Rama, Leaaaaa!" Naira iseng mencubit pipi Lea. Lea pun menjerit.

"Nairaaaa, awas lo ya, kasitau kak Deny kamu, Nai"
Lea dan Naira pun kejar-kejaran kayak anak kecil yang berebut permen lolipop yang manis, tapi masih manis gue kok, hehehe.
***
Tiga hari sudah berlalu, 5 Agustus dan sekarang berubah menjadi 8 Agustus, masih terbayang-bayang senyuman manis kak Rama di pikiran Lisa melekat tak mau pergi gitu deh, gue aja lupa gimana senyumnya eh Lisa ingat aja, curiga ada lensa kamera di matanya yg bisa buat ngerekam semua kejadian yang dia lihat dari matanya trus bisa di putar terus-terusan supaya ingat terus senyumnya kak Rama.
Sudah hampir dua tahun Lisa mengidolakan kak Rama, bahkan sekarang sampai cinta. Tapi jangan salah, nggak sedikit orang yang juga mengidolakan kak Rama. Gimana engga, seorang dancer hebat yang memiliki keberuntungan mempunyai wajah tampan yang menawan itu bisa membuat semua wanita yang melihat dia bisa jatuh cinta. Termasuk gue, tapi itu dulu ya. Dulu Naira sama Lea juga sempet suka sama kak Rama tapi itu ngga berlangsung lama, hanya beberapa hari cuman gara-gara kak Rama itu pernah manggil sayang ke Naira dan Lea pernah diajak dianterin pulang. Ya simpel aja, entah kenapa bisa sampe buat Naira sama Lea itu jatuh cinta ke dia. Hahaha
"Le, liat deh Lisa senyum-senyum sendiri gitu" Naira berbisik
"Kayanya ingat kak Rama lagi anak itu. Eh Nai, liat deh apa yg gue temuin" Lea menyerahkan beberapa kertas punya Lisa yg diselipkannya diantara buku-buku novelnya. Naira membaca isi satu persatu kertas itu.




Satu demi satu ketas berpindah, dan di kertas terakhir kertas itu terlihat berbeda. Terbungkus rapi di dalam amplop. Naira membukanya dengan perlahan agar tidak ketahuan Lisa, Lea pura-pura mencari novel padahal yang dicarinya beberapa lembar kertas yang bertulis tangannya Lisa seperti yang ia temukan tadi.
“Hahh? Kanker Hati stadium IV” Naira terkejut dengan suara sedikit mengeras lalu berpelan. Lea menoleh ke Naira untungnya Lisa masih asyk dengan dunia khayalannya.
“Kenapa, Nai?”
“Coba liat deh, Le”
Naira menyerahkan kertas hasil diagnosa milik Lisa ke Lea
***
Dua bulan telah berlalu, tapi masih sama Lisa belum mau bercerita tentang apa yang sebenarnya terjadi pada dirinya. Dia lebih memilih diam menahan sakit daripada harus menceritakan apa yang terjadi yang akan membuat sahabat-sahabatnya khawatir. Tapi malah justru sifatnya yang menyimpan rahasia ini yang Naira dan Lea tidak suka.
Kedua sahabatnya itupun juga memilih untuk diam, semua berjalan seperti biasa. Tapi Naira dan Lea yakin suatu saat nanti semua akan terbongkar, rahasia yang selama ini Lisa tutup-tutupi di depan Naira dan Lea suatu saat akan berstatus bukan rahasia lagi.
“Lis, lo baik-baik aja kan?” muka Lisa terlihat pucat tak seperti biasanya, Naira khawatir tapi Lisa tetap menganggap bahwa dirinya baik-baik saja seakan-akan dia tidak merasa bahwa dirinya sedang sakit.
“Nggapapa, Nai. Eh, ambilkan gue minuman dong, tolong” suara Lisa melemas, Naira segera berlari menuju minuman yang diinginkan Lisa. Ketika Naira kembali, ia melihat Lisa sudah dikerumbuni banyak orang.
“Lisa pingsan, Nai” Lea berteriak dari kerumbunan orang itu, Naira segera mendekat dengan lajunya yang masih sambil memegang minuman Lisa.
***
Tiga hari berlalu, Lisa masih dalam keadaan koma. Terus membuat semua orang khawatir dengan keadaannya. Orang tuanya, sahabat-sahabatnya, saudara-saudaranya, juga buat kak Rama. Ya, kak Rama disini, sejak tau Lisa masuk Rumah Sakit dia segera datang, sampai sekarang dia masih setia menunggu Lisa siuman.
Pagi berganti siang, siang berganti sore, dan sore berganti malam. Waktu terus berputar, tapi berada dekat Lisa dunia serasa dihentikan olehnya. Tidak ada yang berubah, Lisa tetap terdiam, masih tetap tertidur pulas dalam mimpi indahnya. Naira selalu berharap sahabatnya itu akan bangun, dan mengingatkan semua orang bahwa besok adalah hari dimana tepat hari kelahirannya.
***
Hari ini, tepat di tanggal 15 Desember. Naira berangkat menuju Rumah Sakit. Dikamar VIP 5 tempat Lisa dirawat terlihat sepi. Naira melihat ke dalam dari sebuah pintu masuk yang sebagiannya kaca, Naira melihat sesosok pria yang tak asing lagi, dengan sebuah kado dan sebuah kue. Naira memfokuskan pandangannya, ternyata pria itu adalah kak Rama yang selama ini diidolakan sahabatnya itu dan yang pernah menjadi idolanya Naira dan Lea dulu.
“Happy Birthday, Lisa... Happy Birthday, Lisa... Happy Birthday. Happy Birthday. Happy Birthday, Lisa....” Terdengar suara berat dari dalam sana. Ya, itu kak Rama siapa lagi kalau bukan dia. Dia bernyanyi untuk Lisa, tapi Lisa tetap dalam diamnya, tetap dalam tidurnya. Andai dia tahu saat ini apa yang dilakukan kak Rama, habis ini pasti dia akan loncat-loncat, senyum-senyum kegirangan dan bercerita tanpa hentinya dengan kedua sahabatnya.
Kak Rama menyalakan semua lilin di kue nya dengan sebuah korek api, dan meninggalkan sepucuk surat, kado dan tentunya kue. Dia berharap Lisa akan bangun dan melihat kado special ini.
Kak Rama mencium kening Lisa, lalu pergi meninggalkannya, Naira juga menjauh meninggalkan pintu VIP 5 itu. Untungnya kak Rama ngga liat Naira berlari menjauh dari ruangan itu.
Kak Rama mulai menjauh dari ruangan, Lea mengagetkan Naira.
“Nai, Ngapain lo disini? Main petak umpet sama siapa?”
“Iiiihh lo, Le. Ngagetin gue aja sih.”
“Eh malah marah, gue tanya lo ngapain disini?”
“Ntar deh gue ceritain, masuk yok”
***
Lea dan Naira masuk ruangan Lisa dirawat, masih sama seperti hari-hari kemaren. Ruangan terlihat sepi tidak ada canda tawa Lisa. Lea bingung kue dan kado di tempat tidur itu siapa yang meletakkan.
“Kado sama kue dari siapa ini, Nai?”
“Udah, ntar gue ceritain semuanya ke lo”
Tuhan mendengarkan doa Naira dan Lea. Jari Lisa bergerak dan ia mulai membuka matanya. Lea dan Naira segera mengabari orang tua Lisa.
“Nai, Le, tadi gue mimpi” suara Lisa masih lemas.
“Mimpi apa, Lis?” Naira dan Lea bersamaan.
“Gue mimpi, di hari ulang tahun gue Kak Rama nyanyiin lagu Happy Birthday, ngasih kue ulang tahun dengan lilin hidup semua, dan dia ngasih kado. Dia juga ninggalin sepucuk surat buat gue, dan dia juga nyium kening gue. Tapi pas gue mau buka surat itu, gue ngga bisa.”
Suara Lisa semakin melemas, Lea menjawab semua omongan Lisa. Naira terdiam, Naira bingug apa yang harus di katakannya. Mimpi Lisa yang baru saja ia katakan itu sama apa yang ia lihat tadi. Tuhan, apa maksud dari semua ini.
Suara Lisa membuyarkan lamunan Naira.
“Nai”
“Ehh iya, Lis. Ada apa ya?”
“Ini semua lo yang ngerencanain, Nai?” Lisa menunjuk barang-barang yang ada di tempat tidurnya.
“Bukan, Lis. Bukan gue tu ada ninggalin surat, baca aja dari siapa”
Tangan Lisa gemetaran, dengan lemas meraih surat itu dan ingin membukanya. Tapi apalah daya tangan tak sampai, mungkin sudah takdir Tuhan. Lisa menghembuskan nafas terakhirnya dengan tangan memegang sepucuk surat itu tanpa membukanya. Sama seperti yang ada dalam mimpinya. Dia tidak bisa membuka surat itu. Mungkin Tuhan telah memberikan isyarat tapi tidak ada yang mengetahuinya.
***
 “Udah, Le. Jangan nangis ikhlasin. Tuhan punya rencana yang lebih baik” Naira menenangkan Lea, mencoba meredakan tangisnya.
Orang Tua dan saudara-saudara Lisa pergi meninggalkan pemakaman Lisa, dan disana hanya ada Naira, Lea, dan Kak Rama. Kak Rama terlihat mengelap air matanya. Dan mulai bertanya.
“De, Lisa sudah baca surat dari kaka?”
“Belum kak, Lisa ngga sempat buka kertas itu dia hanya sempat memegangnya” Naira menjawab pertanyaan kak Rama, Lea masih dalam tangisannya.
“Andai dia tau yang sebenarnya”
“Memangnya kenapa kak?”
“Disurat itu kaka tulis perasaan yang sebenarnya kaka rasain ke dia, disurat itu kaka ungkapin semuanya. Sebenarnya orang yang dia sayang selama ini juga sayang sama dia. Tapi dia ngga pernah tau, karna kaka mencoba nutupin semua rapat-rapat”
“Kenapa kaka lakuin gitu?”
“Kaka punya alasan tersendiri, de”
“Yasudah, Naira sama Lea pamit duluan ya kak. Yang tabah kak”
Naira dan Lea pun pergi meninggalkan pemakaman Lisa. Hanya kak Adib seorang disana. Ia pun mulai meneteskan air matanya lagi dan berkata.
De, kka kangen. Kangen senyumnya ade. Kangen nangisnya ade. Ade dibawah sana kedinginan kah? Apa dibawah sana ade dapat org yg lebih dari kka? Ade jangan nangis ya disana. Ade harus tetap senyum ya, de. Kka nyesal dulu nyia2kan ade. Maafin kka yang ngga akan pernah bilang kala\u kka sayang sama ade secara langsung. Mungkin cinta ini emang ngga akan pernah terucap, de.

Salam Par Praa;)

0 komentar:


up