Hey, mau baca cerpen ini ya? Udah baca yang sebelumnya ngga? Baca yg sebelumnya dulu biar seru :D hhiihi
Satu
bulan telah berlalu, tahun pun ikut berganti. Lembaran baru dalam buku
kehidupanku. Masih tersimpan dalam memori otakku cara Lisa tersenyum, cara Lisa
tertawa, cara Lisa menangis, cara Lisa menyemangatinya dengan penuh kasih
sayangnya.
Aku kembali meneteskan air mata,
memandang langit penuh bintang dari jendela kamar dan kemudian tersenyum
menatap layar pada laptop. Ya, itu foto-foto kami bertiga saat kami canda tawa
bersama, tersenyum bersama dan menangis bersama.
Tuhan, tidak akan ada yang
bisa menggantikan dia sebagai sahabatku. Jagalah dia, Tuhan. Buat dia tersenyum
disana. Melihat keluarganya, melihat saudara-saudaranya, melihat
sahabat-sahabatnya, juga tersenyum melihat kak Rama. Hapus air matanya saat dia
menangis, Tuhan. Dan pertemukan kami di tempat abadi nanti. Amin
Tiiiit.....Tiiiiiit.....Tiiiit... Handphone
ku berdering memanggil dari balik bantal. Aku kembali mengelap air mataku
dengan tisu yang sejak tadi ku pegang, kemudian beranjak pergi untuk meraih
telpon entahlah siapa yang menghubungiku.
“Deny” Aku tersenyum melihat siapa
yang memanggil. Ya, dia kekasihku semenjak setahun yang lalu. Entahlah aku
terlalu larut dalam kesedihan, begitu terasa rasanya kehilangan hingga aku lupa
dengan sesosok pria yang telah mencintaiku hingga sekarang ini.
###
Minggu
pagi yang cerah, hembusan angin pantai terasa sangat segar. Aku memandang
lautan dari tepi pantai, kemudian duduk di pasir pantainya yang putih dengan
tangan memeluk lutut.
“Ada apa, de?”
Aku asyik dengan pemandangan disekelilingku hingga tak
menyadari kehadiran Deny yang langsung duduk disampingku.
“Bang, Naira mau main ombak”
Aku mencoba membujuk dengan muka dan
suara manjanya sambil berdiri dan kemudian menarik-narik tangannya.
“Sayang, ada apa?”
Deny kembali bertanya dengan muka
serius tapi aku tetap tak mau menjawab. Aku hanya membalasnya dengan tawa tapi
entah Deny tetap dengan muka seriusnya seakan-akan ia tahu dan dapat membaca
dari binaran mata ku yang tak mungkin berbohong ada sesuatu yang aku
sembunyikan. Dan aku kemudian mengalihkan pembicaraan.
“Bang, lihat deh itu apa?”
Naira menunjuk sesuatu di ujung
sana.
“Anak kecil, de. Kenapa?”
“Kesana yuk! Dia sendirian di sana,
tapi lomba lari ya kesananya”
Aku langsung berlari tanpa
memperdulikan keputusan Deny mau atau tidak berlomba lari denganku.
Aku melesat pergi jauh, Deny
tertinggal jauh dibelakang. Aku tersadar tak ada Deny mengikuti langkahnya.
Naira berhenti lalu menoleh ke belakang dan mulai berlari lagi untuk mendatangi
kekasihnya.
“Ade cepat banget larinya, abang
ngga mampu ngejar ade”
“Hehehe”
Aku cengengesan nafasnya masih
ngos-ngosan. Dan kemudian mengatur nafas.
Sore menjelang malam, kami masih
berada di pantai. Menikmati penuh hari ini dengan topik pembicaraan yang
kosong. Ya memang sejak tadi dia mulai memberikan topik pembicaraan, tapi entah
aku enggan menjawab pertanyaannya sekarang. Rasanya seperti.... Gugup untuk
mengakui, lidah ku kelu saat ingin menjelaskan inginku yang sesungguhnya
mengajaknya ke tempat ini.
“De”
“Iya bang?”
“Ade kenapa sih tumben-tumbenan
gini, ade mau ngomong apa?”
“Abang, liat deh mataharinya mau
terbenam, bagus ya”
Aku kemudian menyandarkan kepalaku
tepat di bahu Deny. Deny tak menggubris omonganku. Yasudahlah is up to him!
Matahari telah terbenam, menyisakan
pancaran sinarnya yang sedikit demi sedikit menghilang berganti dengan gelapnya
malam, dengan taburan bintang dan sebuah bulan. Ya, bulan kali ini bulan
purnama.
Kami masih terdiam menatap langit,
aku mulai memberanikan diri membuka percakapan.
“Abang”
“Iya de”
“Naira pengen hari ini jadi hari
yang special buat Naira. Naira pengen menghabiskan hari ini khusus berdua sama
abang”
“Memang tanggal berapan ini, de? Ade
ngga lagi ulang tahun kok, hari ini juga bukan anniv kita. Kan hari esok dan seterusnya bakalan masih ada, ade”
“Hari esok dan seterusnya memang
bakalan masih ada, abang. Tapi belum tentu besok kita masih bersama”
“Ade jangan ngomong macam-macam deh”
“Baaaaang”
“Deeeeeee”
“Abang kenapa nda coba cari cewek
lain?”
“Abang udah punya Naira kenapa abang
harus punya cewe lain?”
“Banyak kok cewek yang suka sama
abang, bahkan sayang sama abang. Kenapa abang nda coba dekat sama mereka?”
“Abang milik ade, ngga mungkinlah
abang khianatin ade”
“Kalau kita udah ngga sama-sama lagi
abang udah bisa dekatin mereka, Naira ngga akan ngelarang abang”
“Tapi sekarang kita masih sama-sama,
de. Jadi abang ngga mau dekatin mereka”
Aku dan Deny kembali terdiam, aku
tak lagi menjawab. Dan beberapa menit kemudian aku kembali memanggilnya.
“Abang”
“Iya de?”
“Abang mau janji sesuatu sama
Naira?”
“Janji apa de?”
“Kalau nanti kita udah ngga
sama-sama lagi, abang mau ya dekatin orang-orang yang suka sama abang itu.
Kasihan mereka udah nunggu abang lama”
Deny terdiam sebentar, mungkin lagi
mikir kali ya apa yang mau ia katakan antara iya sama engga. Dan akhirnya dia
milih iya.
“Iya ade. Abang janji sama ade”
“Sekarang Naira mau minta sesuatu
dari abang”
”Apa itu?”
“Naira mau kita pisah”
Aku menjawab dengan nada
berhati-hati agar tidak ada pertengkaran diantara kami, aku mengangkat
kepalaku, tak lagi kepalanku bersandar di bahu Deny.
“Abang punya salah apa, de?”
“Abang ngga punya salah apa-apa, ini
kemauan Naira kok”
“Ade mau ngasihtau alasan dibalik
kemauan ade kan?”
“Ade ngga mau nyakitin orang yang
sayang sama abang”
Deny terdiam selagi menghela nafas
dan kemudian mulai berbicara lagi.
“Abang. Abang ingat ngga? Pantai ini
tempat kita pertama ketemu kan. Naira lari-lari trus nabrak abang. Abang senyum
sama Naira trus bantuin Naira bangun”
“Senyum ade waktu itu manis banget”
“Senyum abang apalagi”
TO BE THE CONTINUE
Salam Par Praa;)


0 komentar:
Posting Komentar